Rabu, 02 September 2015

5 Terrafarma

Tak usah kau risaukan Ayah, aku berkelana bukan untuk dunia semata.
Jangan kau kusutkan keningmu, Ibu, langkah kakiku adalah hangatnya peluk dan doamu.
Mungkin ini adalah akhir, dari pencarianku,  terhadap diriku sendiri.
Di tanah ini, aku terdampar dan mematrikan janji di dalam hati, kepada Sang Mahapasti.
Mungkin pula ini adalah awal dari semangat yang menggumpal.
Di tepian teluk ini, napasku beradu sendu dengan impian dan udara masa depan.
Dari kebasnya rasa cinta dan benci, aku mengerti.
Dari sebuah impian suci yang abadi, aku mengerti.
Dari percikan suara alam yang berteriak sunyi, aku mengerti.
Dari guratan firasat yang tak bertepi, aku mengerti.
Pejalananku adalah perjalanan jauh ke dalam hati untuk hari esok yang lebih berarti.

Credits: J.S. Khairen 30 Paspor di Kelas sang Profesor Buku 1

1 komentar: