Rabu, 10 September 2014

Pahatlah kebaikan di keabadian Hati kita


Alkisah ada dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Udara yang begitu panas membuat meraka kehausan. Bekal air minum yang tinggal sedikit, buat meraka harus berebut air minum. Hingga terjadinya pertengkaran di antara keduanya. Pertengkaran itu menyebabkan salah seorang menampar temannya. Orang yang terkena tamparan merasa sakit hati, lalu tanpa berkata-kata dia menulis sesuatu di atas pasir : “hari ini, sahabat terbaikku menampar pipiku."

Perjalanan itu tetap mereka teruskan, meskipun sudah ada perselisihan di antara dua orang sahabat tersebut. Keduanya terus berjalan hingga tiba di sebuah oasis, di mana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya terkena tamparan dan terluka hatinya mencoba berenang, namun ia nyaris tenggelam. Keberuntungan masih berpihak kepadanya karena sahabatnya berhasil menyelamatkan dirinya yang pingsan. Ketika ia mulai siuman dan rasa takutnya hilang, ia menulis sesuatu pada sebuah batu: “hari ini, sahabat terbaikku menyelamatkan nyawaku."

Orang yang telah menampar dan menolong sahabatnya bertanya,
“mengapa setelah saya melukai hatimu, engkau menulis sesuatu di atas pasir? Dan, mengapa setelah saya menolongmu, engkau menulis sesuatu di atas batu?”

Sang sahabat menjawab sambil tersenyum, 

“ketika seorang sahabat melukai, kita harus menuliskannya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan mneghapus tulisan tersebut. Dan, jika seorang sahabat berbuat baik pada kita, kita harus memahatnya di atas batu hati kita agar tidak bisa hilang ditelan oleh waktu"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar