Selasa, 27 November 2012

APRESIASI KARYA SENI

PENGERTIAN APRESIASI KARYA SENI

-Apresiasi

Apresiasi adalah suatu proses melihat, mendengar, menghayati, menilai, menjiwai dan membandiangkan atau menghargai suatu karya seni.


-Karya

Karya adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh manusia dan membuahkan hasil.


-Seni

Seni adalah suatu strategi yang digunakan oleh seseorang dengan cara mengimajinasikan inspirasinya menjadi nyata supaya terlihat indah dan menarik.


-Rupa

Rupa adalah wujud, bidang, garis, gelap terang / value, warna pada suatu karya


-Apresiasi Karya Seni Rupa

Jadi ‘ Apresiasi Karya Seni Rupa ’ adalah suatu cara / proses melihat, mendengar, menghayati dan membandingkan suatu karya seni untuk dinilai / dinikmati dari segi keindahanya.

Secara leksikografis, kata apresiasi berasal dari bahasa Inggris apreciation, yang berasal dari kata kerja to Apreciate, yang menurut kamus Oxford  berarti to judge value of; understand or enjoy fully in the right way; dan menurut kamus webstern adalah to estimate the  quality of to estimate rightly tobe sensitevely aware of. Jadi secara umum me-apresiasi adalah mengerti serta menyadari sepenuhnya, sehingga mampu menilai secara semestinya.
Dalam kaitannya dengan kesenian, apresiasi berarti kegiatan meng-artikan dan menyadari sepenuhnya seluk beluk karya seni serta menjadi sensitif terhadap gejala estetis dan artistik sehingga mampu menikmati dan menilai karya tersebut secara semestinya. Dalam apresiasi, seorang penghayat sebenarnya sedang mencari pengalaman estetis. Sehingga motivasi utama yang muncul dari diri penghayat seni adalah motivasi untuk mencari pengalaman estetis.


OBJEKTIF APRESIASI
a) Memahami dan bertindak terhadap aspek seni 
b) Mengetahui pentingnya nilai seni dalam kehidupan 
c) Menghasilkan karya (produk seni) 
d) Memahami seni dan hubungannya 
e) Membuat dan menggunakan pertimbangan estetik dan kualiti karya seni



Seorang apresian dalam melakukan penghayatan dan penilaian terhadap sebuah karya tidak bisa dilepaskan dari persoalan persepsi yang muncul ketika berhadapan dengan karya tersebut.

Persepsi

Pada dasarnya persepsi muncul karena ada kesadaran terhadap lingkungan dan melalui sebuah proses mental terjadilah interaksi antar obyek penginderaan dan makna, sehingga dengan demikian kemunculan persepsi seseorang terhadap sebuah obyek dipengaruhi oleh banyak faktor.
Manusia mempersepsi stimulus yang diamati berdasarkan struktur pengetahuan atau skema yang ada pada dirinya. Skema yang dimaksud adalah organisasi dan intelegensi pengetahuan yang digunakan untuk menginterpretasikan masukan yang datang. Skema setiap orang berbeda sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman masing masing.Jadi persepsi adalah kesadaran kita atas dunia  sekitar berdasarkan informasi yang datang lewat pengenderaan, atau sering juga disebut sebagai kenyataan faktual kelengkapan manusia
Ada tiga jenis persepsi  yang digunakan orang dalam menilai benda benda artefak budaya yaitu :
1.      persepsi praktis,
2.      persepsi analitis dan
3.      persepsi apresiatf
(Stephen C Pepper, 1976: 7) di mana penggunaan masing masing jenis persepsi tersebut berbanding lurus dengan tujuan dan pola berpikir seseorang dalam memaknai obyek.
1.      Presepsi praktis adalah kesadaran intelegensi dan respon psikologis yang diarahkan ke peroalan persoalan praktis. Dalam hal ini repon yang diberikan terhadap rangsangan dilihat dari aspek relasi-fungsional. Obyek /stimulan ditanggapi sebagai instrumen untuk mencapai tujuan akir.
2.      Persepsi analitis adalah persepsi yang memandang stimulator sebagai instrumen untuk mendapat kualifikasi relasional baik di antara obyek lain maupun kualifikasi atas bagian per bagian dari benda itu sendiri atas dasar proses sebab-akibat; atau memasukkan setiap bagiannya ke dalam unsur yang dapat dikorelasikan dan diformulasikan ke dalam rumusan tertentu.
3.      Sedangkan persepsi apresiatif adalah suatu usaha memandang stimulan sebagai media untuk memperoleh pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan sehingga di peroleh pengalaman estetis atas obyek yang diamati.
Situasi sosial tempat stimulus itu berada akan mempengaruhi indra dalam mempersepsi stimulus tersebut, selain itu persepsi pengamat terhadap obyek yang sama dapat berubah karena obyek ditempatkan pada lingkungan sosial yang berbeda.
Faktor faktor yang mempengaruhi persepsi individu adalah : 
1) pengalaman belajar
(2) harapan  
(3) motif atau kebutuhan dan
(4) kepribadian.
Dari paparan pendapat di atas tentang persepsi tampaklah bahwa sebagian besar faktor yang berpengaruh dalam pembentukan persepsi adalah kualitas pribadi pengamat dan bukan kualitas obyek. Apapun kualitas obyek maknanya sangat tergantung pada kualitas pribadi pengamat. Makna yang merupakan pola dalam rangka pembentukan persepsi diperlukan untuk menyeleksi dan memahami lingkungan serta untuk mengembangkan bahasa dan proses berpikir. Dalam kaitannya dengan seni, istilah bahasa bisa diartikan adalah ungkapan hasil proses perasaan dan pikiran melalui elemen dan strukturnya untuk menyampaikan pesan..
    Dalam kaitannya dengan apresiasi terhadap karya seni, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi apresiasi seseorang ,yaitu;
·        Kemauan dan minat,
·        Sikap terbuka,
·        Kebiasaan,
·        Peka atau sensitif
·        Kondisi mental.
Kemauan dan minat diperlukan untuk menikmati karya; sebab tanpa kemauan dan minat apresiasi tidak akan berhasil
Sikap terbuka  diperlukan untuk menghindari sikap apriori terhadap suatu karya. Hanya karya yang disenangi yang dianggap baik, yang lain tidak.
Seorang penghayat benda seni perlu membiasakan diri menghadapi karya secara intensif agar memiliki perbendaharaan rupa, gerak dan bunyi yang memadai dan selalu bertambah dan meningkat, yang muaranya adalah muncul kepekaan terhadap segala gejala rupa, gerak dan suara/ bunyi.  yang ada di sekitarnya baik secara partial maupun secara kolaboratif.
Kepekaan menangkap gejala unsur seni dengan segala perubahannya merupakan suatu tuntutan, karena kepekaan seseorang akan membantu menelusuri sumber kreasi dan sumber estetik suatu karya.sehingga dengan demikian akan memperlancar menangkap makna yang tersirat dari yang tersurat sebuah karya.
Kondisi mental dalam rangka apresiasi adalah, intensitas seseorang dalam melakukan penghayatan. Kurangnya intensitas karena adanya gangguan psikhis akan menyebabkan apresiasi tidak maksimal. Ada beberapa mekanisme psikologis yang menyebabkan timbulnya perubahan penilaian atau evaluation mutation, yaitu
·        conditioning,
·        habituation dan
·        fatique.
Menurut Stepen C Pepper (1976) conditoning dapat terwujud dalam 4 variasi, yaitu
·        the means-to-end mutations, perubahan nilai yang terjadi pada suatu bendatanpa mengkaitkan dengan benda lain yang semula berhubungan. Misalnya pipa rokok disenangi karena bentuknya, tidak ada hubungan lagi dengan rokok atau tembakau.
·        the mechanized habit mutation,perubahan penilaian karena adanya mekanisme kebiasaan.Misalnya, anak diajak menonton pergelaran tari secara kontinyu maka lama kelamaan anak akan menyenagi tarian terebut. Kunci dari perubahan penilaian ini adalah kontinyuitas dan mekanisme yang jelas.
·        symbolic meaning, penilaian yang terjadi karena pemberian makna terhadap tanda atau simbol yang dilakukan secara terus menerus. Misalnya, warna-putih akan di maknai Indonesia, bentuk bintang dan strip akan di maknai Amerika.
·        type. Penilaian yang didasarkan pada pengolonggan ciri-ciri tertentu yang melekat pada objek. Misalnya, dinilai perempuan karena berambut panjang, memakai rok, bergaya gemulai, dan sebagainya.
Perubahan penilaian yang terjadi pada conditioning dengan segala variantnya ini bersifat sementara, sedangkan berubahan yang terjadi pada Habituation/ kebiasaan bersifat long term.

Sementara  itu ada dua jenis Fatique yang  terjadi pada manusia yaitu
·        sensory fatique, adalah kelelahan yang disebabkan oleh kelelahan inderawi
·        attentive fatique. adalah kelelahan perhatian/ kejenuhan terhadap sesuatu yang berlangsung sangat lama, sehingga konsentrasi sudah tidak stabil lagi.


TUJUAN APRESIASI DAN KRITIKAN SENI

1. Apresiasi seni membolehkan pelajar memahami aspek-aspek nilai estetika, pengertian 
unsur-unsur seni dan nilai-nilai sosio budaya yang terkandung dalam hasil seni dan 
kraf.  

2.dapat menghubungkaitkan diri dan hasil sendiri dengan hasil-hasil lain berdasarkan persepsi visual.

3.dapat melihat perhubungan antara kerja sendiri dengan kerja-kerja orang lain di mana kita dapat membentuk keyakinan dan kefahaman penghargaan terhadap bidang seni 
PENDEKATAN DALAM APRESIASI SENI

Mengikut John A. Michael dalam bukunya “art and adolescence” ada dua pendekatan 
dalam apresiasi seni iaitu:
            a) PENDEKATAN SECARA LOGIK
Pendekatan ini adalah berbentuk tradisional dan memerlukan pemahaman intelek 
semata-mata dan banyak berfaktakan kepada aspek andaian dan munasabah pada 
yang melihat sesuatu karya seni tersebut: 
Cadangan aktiviti pendekatan secara logik:
Secara penerangan - Membaca, mengkaji, bila dihasilkan, 
tujuan/teknik pelukis, media, proses, nilai- 
nilai estetika dan pengaruh 
Secara pemerhatian - Balai seni, pameran, filem, slaid, 
mengumpul dan menyusun gambar- 
gambar 
Secara perbandingan - Analisa, penilaian, perbandingan antara 
satu dengan yang lain serta menimbulkan 
kesedaran 
Secara penghasilan - Membuat mengikut gaya artis/stail,menimbulkan kefahaman masalah nilai- nilai khas, kepuasan, menghubungkan diri 
dengan pelukis/pandai tukang gaya 
konsep dan zaman.
            b) PENDEKATAN SECARA PSIKOLOGI
Pendekatan ini merangkumi perkara-perkara yang lebih menjurus kepada perasaan 
peribadi, lebih bersifat emosi dan perasaan dalaman kepada penghasilan dan 
penghayatan sesuati karya seni. 
Pendekatan ini akan dapat meninggalkan satu pengalaman yang amat berkesan dan 
mendalam. Secara ini akan lebih realistik dan dapat menerima ‘response’ dan pendapat 
orang lain. Kesan tindakbalas akan lebih terserlah terhadap bahan serta alat yang 
digunakan. 
Cadangan aktiviti pendekatan secara psikologi: 
1. Secara perbincangan dan perbandingan 
2. Secara proses inkuiri penemuan (discovery) 
3. Secara kritikan mengenai lukisan/hasil kerja seni 
4. Secara menyediakansetting/set induksi 
5. Secara membesarkan gambar 
6. Secara mengolah bahan-bahan sebenar 
7. Secara aktiviti permainan seni 
8. Secara lawatan/pameran 
9. Secara koleksi buku-buku skrap dan lakaran


KAEDAH MELIHAT SENI

Kaedah-kaedah melihat seni terdiri daripada kaedah:

a) Hedonistic
b) Kontekstualistik
c) Organistik
d) Normistik
e) Elektik

a. KAEDAH HEDONISTIC

Kaedah ini hanya satu luahann perasaan secara spontan seperti kesukaan, pernyataan
perasaan, gemar, menarik dan benci.
Penilaian dibuat secara serta merta iaitu:

• Suka/tidak
• Tertarik/tidak
• Pernyataan spontan

Kaedah ini tidak sealiran dengan isme pengkritik dan ahli psikologi menyatakan kaedah
ini tidak diterjemahkan oleh otak (pemikiran) Cuma berdasarkan maklumat kendiri.
Ianya tidak dapat di ukur bilangan sebenar dan terdapat pelgabai citarasa.


b. KAEDAH KONTEKSTUALISTIK

Kaedah ini lebih praktikat di mana pemerhatian dibuat secara lebih ilmiah, sistematik
dan kefahaman serta kejelasan. Ianya berkait dengan pengetahuan sejarah, falsafah
dan prinsip rekaan.Lebih rujuk kepada perincian/spesifikasi dari aspek persoalan fahaman, rentak pengkaryaan, interaksi pemerhati, konsepsi, hujah dan penilai karya.
Ianya akan menyediakan pengetahuan mantap dalam pengamata karya, kefahaman
konsep, kepelbagaian bandingan dan seni akan menjadi suatu pendekatan yang
menarik oleh pemerhati.


c. KAEDAH ORGANISTIK

Kaedah ini menjurus kepada aturan yang mempunyai satu sistem yang teratur dan
terancang. Penilaian dibuat serata melihat konteks seni secara harmoni, menentuh
intuisi dan menyenangkan. Penekanan kriteria kapada aspek tata letak, tata atur, ruang
dan penataan cahaya.
Ini akan dapat membentuk kesatuan cara melihat sesuatu karya dari segi warna,
jalinan, unsur-unsur seni , imbangan, perulangan, kesinambungan serta kepelbagaian.

d. KAEDAH NORMISTIK

Kaedah ini merujuk kepada kriteria dan norma sesuatu karya dari aspek nilai
masyarakat, agama dan budaya. Ia seakan-akan ada kaitan dengan pendekatan diri
kepada Allah, rasa takwa, tidak ada unsure sensasi. Cntohnya lukisan agama Kristian
yang berkaitan unsur ikonografi, naratif dan nilai-nilai akhlak.
Kaedah ini menolak peradaban moden di mana pelukis telah melampaui batas yang
dibenar dalam budaya dan agama.

e. KAEDAH ELEKTIK

Kaedah ini lebih berbentuk cara bersepadu dan holistic, ianya aalah gabungan persepsi
penilai seni tentang tanggapan positif dan negatif. kriteria penilai menekankan unsur
asas prinsip, struktur organisasi dan alat dan bahan.
Kaedah ini untuk pemerhatian secara rawak, tidak menjurus kepada aspek
kronologinya. Wajaran hanya secara baik, sederhana dan kurang baik.
         PROSES APRESIASI SENI 

Terdapat berbagai cadangan oleh beberapa pakar pendidikan seni mengenai proses
apresiasi. Feldman (1967) dan smith (1967) mencadangkan aktiviti-aktiviti apresiasi seni berasaskan kepada proses persepsi dan intelektual melalui empat tahap:

a) Menggambarkan
b) Menganalisa
c) Tafsiran
d) Penilaian

A. MENGGAMBARKAN
Mengamati hasil seni dan menggambarkab sifat-sifat tampak seperti warna, garisan,
bentuk, rupa, jalinan dan elemen-elemen gubahan iaitu prinsip dan struktur

B. MENGANALISA

i. Menganalisa perhubungan sifat-sifat tampak seperti unsure-unsur seni, prinsip
dan stuktur
ii. Menganalisa kualiti ekspresif seperti mood dan suasana
iii. Menghauraikan stail sesuatu karya


C. TAFSIRAN

i. Mencari makna-makna yang tedapat pada sifat-sifat tampak seperti subjek,
symbol, unsure-unsur seni, prinsip, strktur, corak dan bahan
ii. Mencari metafora-metafora (ibarat/kiasan) an analogi-analogi (persamaan) untuk
menjelaskan makna tersebut.

D. PENILAIAN

i. Membuat penilaian berdasarkan kepada criteria yang bersesuaian seperti
keaslian, gubahan, teknik dan fungsi
ii. Menilai hasil seni berdasarkan kepada pengertiannya dari segi individu, social, 
keaagamaan dan kepercayaan, sejarah serta keseniaannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar