Senin, 20 Februari 2012

Perjanjian Antara Indonesia dengan negara lain


Dapat tugas Pkn tentang Perjanjian- perjanjian antara Indonesia dengan negara lain...

hampir semua sih dapetnya dari Wikipedia...

Chekidot.. :D

1.Perjanjian Bungaya
Perjanjian Bungaya (sering juga disebut Bongaya atau Bongaja) adalah perjanjian perdamaian yang ditandatangani pada tanggal 18 November 1667 di Bungaya antara Kesultanan Gowa yang diwakili oleh Sultan Hasanuddin dan pihak Hindia Belanda yang diwakili olehLaksamana Cornelis Speelman.[1] Walaupun disebut perjanjian perdamaian, isi sebenarnya adalah deklarasi kekalahan Gowa dari VOC(Kompeni) serta pengesahan monopoli oleh VOC untuk perdagangan sejumlah barang di pelabuhan Makassar (yang dikuasai Gowan).

Isi perjanjian
1.    Perjanjian yang ditandatangani oleh Karaeng Popo, duta pemerintah di Makassar (Gowa) dan Gubernur-Jendral, serta Dewan Hindia diBatavia pada tanggal 19 Agustus 1660, dan antara pemerintahan Makassar dan Jacob Cau sebagai Komisioner Kompeni pada tanggal2 Desember 1660 harus diberlakukan.
2.    Seluruh pejabat dan rakyat Kompeni berkebangsaan Eropa yang baru-baru ini atau pada masa lalu melarikan diri dan masih tinggal di sekitar Makassar harus segera dikirim kepada Laksamana (Cornelis Speelman).
3.    Seluruh alat-alat, meriam, uang, dan barang-barang yang masih tersisa, yang diambil dari kapal Walvisch di Selayar dan Leeuwin di Don Duango, harus diserahkan kepada Kompeni.
4.    Mereka yang terbukti bersalah atas pembunuhan orang Belanda di berbagai tempat harus diadili segera oleh Perwakilan Belanda dan mendapat hukuman setimpal, dan masih banyak lagi.

2.Perjanjian Renville

Perjanjian Renville adalah perjanjian antara Indonesia dan Belanda yang ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948 di atas geladak kapal perang Amerika Serikat sebagai tempat netral, USS Renville, yang berlabuh di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Perundingan dimulai pada tanggal 8 Desember 1947 dan ditengahi oleh Komisi Tiga Negara (KTN), Committee of Good Offices for Indonesia, yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia, dan Belgia.

Delegasi

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri Amir Syarifuddin Harahap. Delegasi Kerajaan Belanda dipimpin oleh Kolonel KNIL R. Abdul Kadir Wijoyoatmojo. Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh Frank Porter Graham

Isi perjanjian
1.    Belanda hanya mengakui Jawa tengah, Yogyakarta, dan Sumatra sebagai bagian wilayahRepublik Indonesia
2.    Disetujuinya sebuah garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dan daerah pendudukan Belanda
3.    TNI harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan di Jawa Barat dan Jawa Timur Indonesia diYogyakarta


3.Perjanjian Maastricht
Perjanjian Maastricht (formalnya Perjanjian Uni Eropa ditandatangani pada tanggal 7 Februari 1992 oleh anggota-anggota Komunitas Eropa di Maastricht, Belanda.[1] Pada tanggal 9-10 Desember 1991, kota tersebut juga menjadi tuan rumah Dewan Eropa yang mendrafkan perjanjian ini.[2] Setelah diberlakukan tanggal 1 November 1993 selama Komisi Delors,[3]perjanjian ini membentuk Uni Eropa dan mendorong pembentukan mata uang tunggal Eropa, yaitu euro. Perjanjian Maastricht telah diamandemenkan oleh beberapa perjanjian selanjutnya. Untuk rincian isi perjanjian, serta amandemen oleh perjanjian Amsterdam, Nice dan Lisbon, lihatdaftar perjanjian Uni Eropa.

Isi Perjanjian
1. Tingkat inflasi: Tidak boleh lebih dari 1,5 poin persen lebih tinggi daripada rata-rata tiga negara anggota dengan inflasi terendah di UE.
Defisit pemerintah tahunan:
Rasio defisit pemerintah tahunan dengan produk domestik bruto (PDB) tidak boleh lebih dari 3% pada akhir tahun fiskal selanjutnya. Jika tidak, negara tersebut diwajibkan mencapai tingkat mendekati 3%. Hanya ekses pengecualian dan sementara yang diperbolehkan untuk dikecualikan.
Utang pemerintah:
Rasio utang pemerintah bruto dengan PDB tidak boleh lebih dari 60% pada akhir tahun fiskal selanjutnya. Bahkan jika target ini tidak tercapai karena kondisi tertentu, rasio tersebut harus setidaknya berkurang dan mendekati nilai referensi dengan progres yang memuaskan. Pada akhir 2010, hanya dua negara anggota UE, Polandia dan Republik Ceko, yang mencapai target ini.[rujukan?]
3. Nilai tukar: Negara pendaftar harus menjalani mekanisme nilai tukar (ERM II) di bawah Sistem Moneter Eropa (EMS) selama dua tahun berturut-turut dan tidak boleh mendevaluasi mata uangnya selama periode tersebut.
4. Tingkat suku bunga jangka panjang: Tingkat suku bunga jangka panjang nominal tidak boleh lebih dari 2 poin persen lebih tinggi daripada di tiga negara anggota yang mengalami inflasi terendah.
Tujuan penetapan kriteria ini adalah untuk mempertahankan harga kestabilan di Zona Euro meski ada negara anggota baru sekalipun.

Penandatanganan

Penandatanganan Perjanjian Maastricht dilakukan di Maastricht, Belanda pada tanggal 7 Februari 1992. Pemerintah Belanda, yang memegang jabatan Kepemimpina Dewan Uni Eropa selama negosiasi pertengahan kedua tahun 1991, mengadakan upacara di dalam gedung pemerintahan provinsi Limburg di sungai Meuse. Perwakilan dari 12 negara anggota Komunitas Eropa hadir, dan menandatangani Perjanjian ini sebagai plenipotensiari, sehingga menandakan akhir masa negosiasi.

4.Perjanjian Nonproliferasi Nuklir
Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (bahasa Inggris: Nuclear Non-Proliferation Treaty) adalah suatu perjanjian yang ditandatangi pada 1 Juli1968 yang membatasi kepemilikan senjata nuklir. Sebagian besar negara berdaulat (187) mengikuti perjanjian ini, walaupun dua di antara tujuh negara yang memiliki senjata nuklir dan satu negara yang mungkin memiliki senjata nuklir belumlah meratifikasi perjanjian ini. Perjanjian ini diusulkan oleh Irlandia dan pertama kali ditandatangani oleh Finlandia. Pada tanggal 11 Mei 1995, di New York, lebih dari 170 negara sepakat untuk melanjutkan perjanjian ini tanpa batas waktu dan tanpa syarat.
Perjanjian ini memiliki tiga pokok utama, yaitu nonproliferasi, perlucutan, dan hak untuk menggunakan teknologi nuklir untuk kepentingan damai.

Keanggotaan
§  Perjanjian ini diusulkan oleh Irlandia dan pertama kali ditandatangani oleh Finlandia.
§  Pertama kali terbuka untuk penandatanganan pada 1 Juli 1968 di New York.
§  Mulai berlaku sejak 5 Maret 1970 setelah diratifikasi oleh Inggris, Uni Soviet, Amerika Serikat, dan 40 negara lainnya.
§  Pada tanggal 11 Mei 1995, di New York, lebih dari 170 negara sepakat untuk melanjutkan perjanjian ini tanpa batas waktu dan tanpa syarat.

Negara-negara Anggota
1.        Afganistan
2.        Afrika Selatan
3.        Republik Afrika Tengah
4.        Albania
5.        Aljazair
6.        Amerika Serikat
7.        Andorra
8.        Angola
9.        Antigua dan Barbuda
10.     Arab Saudi
11.     Argentina
12.     Armenia
13.     Australia
14.     Austria
15.     Azerbaijan
16.     Bahama
17.     Bahrain
18.     Bangladesh
19.     Barbados
20.     Belanda
21.     Belarus
22.     Belgia
23.     Belize
24.     Benin
25.     Bhutan
26.     Bolivia
28.     Botswana
29.     Brasil
30.     Britania Raya
31.     Brunei
32.     Bulgaria
33.     Burkina Faso
34.     Burundi
35.     Republik Ceko
36.     Chad
37.     Chili
38.     Denmark
39.     Djibouti
40.     Dominika
41.     Ekuador
42.     El Salvador
43.     Eritrea
44.     Estonia
45.     Ethiopia
46.     Fiji
47.     Filipina
48.     Finlandia
49.     Gabon
50.     Gambia
51.     Georgia
52.     Ghana
53.     Grenada
54.     Guatemala
55.     Guinea Khatulistiwa
56.     Guinea
57.     Guinea-Bissau
58.     Guyana
59.     Haiti
60.     Honduras
61.     Hungaria
62.     Indonesia
63.     Irak
64.     Iran
65.     Irlandia
66.   Islandia
67.   Italia
68.   Jamaika
69.   Jepang
70.   Jerman
71.   Kamboja
72.   Kamerun
73.   Kanada
74.   Kazakhstan
75.   Kenya
76.   Kiribati
77.   Komoro
78.   Kolombia
79.   Korea Selatan
80.   Korea Utara
81.   Kosta Rika
82.   Kroasia
83.   Kuba
84.   Kuwait
85.   Kyrgyzstan
86.   Laos
87.   Latvia
88.   Lebanon
89.   Lesotho
90.   Liberia
91.   Libya
92.   Liechtenstein
93.   Lithuania
94.   Luxemburg
95.   Madagaskar
96.   Makedonia
97.   Maladewa
98.   Malawi
99.   Malaysia
100.Mali
101.Malta
102.Maroko
106.Meksiko
107.Mesir
109.Moldova
110.Monako
112.Montenegro 3
114.Myanmar
115.Namibia
116.Nauru
117.Nepal
118.Niger
119.Nigeria
122.Oman
123.Palau
124.Panama
128.Peru
131.  Perancis
132.  Qatar
137.  Rumania
138.  Rusia 2
139.  Rwanda
141.  Saint Lucia
143.  Samoa
144.  San Marino
147.  Senegal
148.  Serbia 3
149.  Seychelles
150.  Sierra Leone
151.  Singapura
152.  Siprus
153.  Slovakia
154.  Slovenia
156.  Somalia
157.  Spanyol
158.  Sri Lanka
159.  Sudan
160.  Suriname
161.  Swaziland
162.  Swedia
163.  Swiss
164.  Syria
165.  Taiwan 1
167.  Tajikistan
168.  Tanzania
169.  Thailand
170.  Timor Timur
171.  Togo
172.  Tonga
174.  Tunisia
175.  Turki
176.  Turkmenistan
177.  Tuvalu
178.  Uganda
179.  Ukraina
181.  Uruguay
182.  Uzbekistan
183.  Vanuatu
184.  Vatikan
185.  Venezuela
186.  Vietnam
187.  Yaman 4
188.  Yordania
189.  Yunani
190.  Zambia
191.  Zimbabwe

Isi Perjanjian
Perjanjian ini memiliki tiga pokok utama, yaitu nonproliferasi, perlucutan, dan hak untuk menggunakan teknologi nuklir untuk kepentingan damai.
1. Pokok Pertama: Non-Proliferasi
Terdapat 5 negara yang diperbolehkan oleh NPT untuk memiliki senjata nuklir:
§  Perancis (masuk tahun 1992)
§  Republik Rakyat Cina (1992)
§  Uni Soviet (1968, kewajiban dan haknya diteruskan oleh Rusia)
§  Britania Raya (1968)
§  Amerika Serikat (1968)
Hanya lima negara ini yang memiliki senjata nuklir saat perjanjian ini mulai dibuka, dan juga termasuk lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Lima negara pemilik senjata nuklir (Nuclear Weapon States / NWS) ini setuju untuk tidak mentransfer teknologi senjata nuklir maupun hulu ledak nuklir ke negara lain, dan negara-negara non-NWS setuju untuk tidak meneliti atau mengembangkan senjata nuklir.
Kelima negara NWS telah menyetujui untuk tidak menggunakan senjata nuklir terhadap negara-negara non-NWS, kecuali untuk merespon serangan nuklir atau serangan konvensional yang bersekutu dengan negara NWS. Namun, persetujuan ini belum secara formal dimasukkan dalam perjanjian, dan kepastian-kepastian mengenainya berubah-ubah sepanjang waktu. Amerika Serikat telah mengindikasikan bahwa mereka akan dapat menggunakan senjata nuklir untuk membalas penyerangan non-konvensional yang dilakukan oleh negara-negara yang mereka anggap “berbahaya”. Mantan Menteri Pertahanan Inggris, Geoff Hoon, juga telah menyatakan secara eksplisit mengenai kemungkinan digunakannya senjata nuklir untuk membalas serangan seperti itu. Pada Januari 2006, Presiden Perancis, Jacques Chirac menerangkan bahwa sebuah serangan teroris ke Perancis, jika didalangi oleh sebuah negara, akan memicu pembalasan nuklir (dalam skala kecil) yang diarahkan ke pusat kekuatan “negara-negara berbahaya” tersebut.
2. Pokok Kedua : Perlucutan
Pasal VI dan Pembukaan perjanjian menerangkan bahwa negara-negara NWS berusaha mencapai rencana untuk mengurangi dan membekukan simpanan mereka. Pasal VI juga menyatakan “…Perjanjian dalam perlucutan umum dan lengkap di bawah kendali internasional yang tegas dan efektif.” Dalam Pasal I, negara-negara pemilik senjata nuklir (NWS) menyatakan untuk tidak “membujuk negara non-Nuklir manapun untuk…mendapatkan senjata nuklir.” Doktrin serangan pre-emptive dan bentuk ancaman lainnya bisa dianggap sebagai bujukan / godaan oleh negara-negara non-NWS. Pasal X menyatakan bahwa negara manapun dapat mundur dari perjanjian jika mereka merasakan adanya “hal-hal aneh”, contohnya ancaman, yang memaksa mereka keluar.
3. Pokok Ketiga : Hak untuk menggunakan teknologi nuklir untuk kepentingan damai.
Karena sangat sedikit dari negara-negara NWS dan negara-negara pengguna energi nuklir yang mau benar-benar membuang kepemilikan bahan bakar nuklir, pokok ketiga dari perjanjian ini memberikan negara-negara lainnya kemungkinan untuk melakukan hal yang sama, namun dalam kondisi-kondisi tertentu yang membuatnya tidak mungkin mengembangkan senjata nuklir.
Bagi beberapa negara, pokok ketiga perjanjian ini, yang memperbolehkan penambangan uranium dengan alasan bahan bakar, merupakan sebuah keuntungan. Namun perjanjian ini juga memberikan hak pada setiap negara untuk menggunakan tenaga nuklir untuk kepentingan damai, dan karena populernya pembangkit tenaga nuklir yang menggunakan bahan bakar uranium, maka perjanjian ini juga menyatakan bahwa pengembangan uranium maupun perdagangannya di pasar internasional diperbolehkan. Pengembangan uranium secara damai dapat dianggap sebagai awal pengembangan hulu ledak nuklir, dan ini dapat dilakukan dengan cara keluar dari NPT. Tidak ada negara yang diketahui telah berhasil mengembangkan senjata nuklir secara rahasia, jika dalam pengawasan NPT.
Negara-negara yang telah menandatangani perjanjian ini sebagai negara non-senjata nuklir dan mempertahankan status tersebut memiliki catatan baik untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Di beberapa wilayah, fakta bahwa negara-negara tetangga bebas dari senjata nuklir mengurangi tekanan bagi negara tersebut untuk mengembangkan senjata nuklir sendiri, biarpun negara tetangga tersebut diketahui memiliki program tenaga nuklir damai yang bisa memicu kecurigaan. Dalam hal ini, perjanjian Non-Proliferasi bekerja sebagaimana mestinya.
Mohamed ElBaradei, ketua Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), mengatakan bahwa jika negara-negara itu mau, 40 negara dapat mengembangkan sebuah bom nuklir.

5.Perjanjian Shimonoseki


Perjanjian Shimonoseki (下関条約 Shimonoseki Jōyaku?) adalah perjanjian antara Dinasti Qingdari Cina dan Kekaisaran Jepang yang mengakhiri Peperangan Jiawu. Perjanjian ditandatangani17 April 1895 dalam Konferensi Perdamaian Shimonoseki yang berlangsung dari 20 Maret hingga 17 April 1895 di kota Akamagaseki (sekarang disebut Shimonoseki), Prefektur Yamaguchi. Pihak Jepang diwakili Ito Hirobumi dan Mutsu Munemitsu, sedangkan pihak Dinasti Qing diwakili Li Hongzhang.
Perjanjian Shimonoseki dikenal juga sebagai Perjanjian Maguan (Hanzi tradisional: 馬關條約;Hanzi Sederhana: 马关条约; Pinyin: Mǎgūan tiáoyuē). Penandatanganan perjanjian ini menyebabkan tiga negara Eropa (Rusia, Jerman, dan Perancis) melakukan intervensi diplomatik pada 23 April 1895 agar Perjanjian Shimonoseki dikaji ulang yang membawa hasil Dinasti Qing tidak perlu menyerahkan Semenanjung Liaodong.
Berdasarkan perjanjian ini, Dinasti Qing setuju untuk melepaskan pengaruhnya secara penuh atasDinasti Joseon yang mengubah nama menjadi Kekaisaran Korea. Selanjutnya, hak diplomatik Kekaisaran Korea dirampas dan Korea berada dalam zaman pendudukan Jepang dari tahun 1910 hingga 1945.

Ringkasan isi perjanjian
§  Dinasti Qing mengakui kemerdekaan dan otonomi Dinasti Joseon secara penuh dan tanpa syarat. Sebagai akibat kemerdekaan dan otonomi, pembayaran upeti, barang persembahan, dan formalitas ke Dinasti Qing dihapus untuk selamanya.
§  Dinasti Qing menyerahkan hak atas wilayah berikut, termasuk semua benteng pertahanan, gudang senjata, dan aset pemerintah yang terkait kepada Jepang.
§  Dinasti Qing menyerahkan Semenanjung Liaodong, Formosa, dan Kepulauan Pescadores.
§  Dinasti Qing membayar pampasan perang ke Jepang sebanyak 200 juta kùpíng tail emas (sekitar 300 juta yen).
§  Dinasti Qing harus membuka kota Shashi, Chongqing, Suzhou, dan Hangzhou untuk perdagangan, tempat tinggal, industri dan manufaktur Jepang
Berdasarkan Intervensi Tiga Negara, Jepang menerima tambahan ganti rugi atas penarikan pasukan dari Semenanjung Liaodong. Jumlah ganti rugi sebanyak 30 juta tail emas (45 juta yen) yang dibayar dalam jangka waktu tiga tahun dalam mata uang Pound sterling

6.Perjanjian Buttonwood

Perjanjian Buttonwood atau dalam bahasa Inggris disebut Buttonwood Agreement, ditanda tangani pada tanggal 17 Mei 1792, yang merupakan cikal bakal dari "New York Stock & Exchange Board" (sekarang disebut NYSE,yang merupakan singkatan dari New York Stock Exchange). Perjanjian ini ditanda tangani oleh 24 pialang saham yang berlangsung di depan gedung yang terletak di jalan Wall Street nomor 68 di kota New York dibawah pohon American sycamore atau di Amerika disebut pohon buttonwood.
Pada tanggal 8 Maret 1817 organisasi ini merancang akte pendirian dari suatu badan usaha yang diberi nama the "New York Stock & Exchange Board". Kemudian pada tahun 1863, nama ini disingkat menjadi "New York Stock Exchange". Keanggotaan dari NYSE adalah merupakan suatu aset yang berharga sejak tahun 1868, hingga saat inipun anggota baru hanya dapat bergabung dengan membeli "kursi" dari "kursi" yang telah ada dimana jumlah "kursi" ini dibatasi hanya untuk sejumlah 1.366 kursi.
Pada bulan Desember 2005, NYSE berubah menjadi transaksi elektonik dengan menggunakan sarana komputer dan menjadi publik dengan melakukan penggabungan usaha dengan Archipelago yaitu suatu bursa perdagangan secara elektronik dan perusahaan hasil penggabungan tersebut diberi nama NYSE Group, Inc, dan "kursi" keanggotaan pada NYSE dikonversi menjadi kepemilikan saham yang saat ini diperdagangkan di bursa dengan simbol NYX.

Isi perjanjian Buttonwood
Pada dasarnya perjanjian tersebut memutuskan mengenai dua hal penting yaitu :
1.   Para pialang hanya akan bertransaksi dengan sesama pialang dengan demikian akan mengurangi peran juru lelang dan
2.   Komisi transaksi adalah sebesar 0.25%.
Isi perjanjian tersebut sebagai berikut :
Kami para pelanggan, pialang atas penjualan dan pembelian saham, dengan ini secara sungguh-sungguh berjanji dan mengikatkan diri satu sama lainnya, bahwa sejak hari ini kami tidak akan membeli ataupun menjual kepada siapapun juga, saham publik apapun juga, hanya memungut maksimum 0.25% dari sebelumnya yang sebesar 1 % komisi dan untuk itu pula kami akan memberikan preferensi antar sesama dalam melakukan negosiasi. Perjanjian ini dibuat dan ditanda tangani pada tanggal 17 bulan Mei tahun 1792 di New York 
Nama dan alamat para pihak
§  Leonard Bleecker … 16 Wall Street
§  Hugh Smith … Tontine Coffee House
§  Armstrong & Barnewall … 58 Broad Street
§  Samuel March … 243 Queen Street
§  Bernard Hart … 55 Broad Street
§  Alexander Zuntz … 97 Broad Street
§  Andrew D. Barclay … 136 Pearl Street
§  Sutton & Hardy … 20 Wall Street
§  Benjamin Seixas … 8 Hanover Square
§  John Henry … 13 Duke Street
§  John A. Hardenbrook … 24 Nassau Street
§  Samuel Beebe … 21 Nassau Street
§  Benjamin Winthrop … 2 Great Dock Street
§  John Ferrers … 205 Water Street
§  Ephraim Hart … 74 Broadway
§  Isaac M. Gomez … 32 Maiden Lane
§  Julian McEvers … 140 Greenwich Street
§  Augustine H. Lawrence … 132 Water Street
§  G. N. Bleecker … 21 Broad Street
§  John Bush … 195 Water Street
§  Peter Anspach … 3 Great Dock Street
§  Charles McEvers Jr. … 194 Water Street
§  David Reedy … 58 Wall Street
§  Robinson & Hartshorne … 198 Queen Street

7.Pakta Anti-Komintern
Pakta Anti-Komintern merupakan persetujuan antara Jerman Nazi dan Kekaisaran Jepang (negara-negara lain kemudian juga bergabung) pada tanggal 25 November 1936. Pakta ini secara umum merupakan perlawanan yang ditujukan terhadapKomunis Internasional (Komintern), dan secara khusus terhadap Uni Soviet.
"menyadari bahwa tujuan dari Komunis Internasional, yang dikenal sebagai Komintern, adalah untuk memecah-belah dan menaklukkan Negara-Negara yang telah ada dengan semua daya upaya yang dapat dilakukannya; meyakini bahwa toleransi atas campur tangan oleh Komunis Internasional dalam urusan internal bangsa-bangsa tidak hanya membahayakan kedamaian internal dan kesejahteraan sosial mereka, tetapi juga merupakan ancaman bagi perdamaian dunia yang berkeinginan untuk bekerja sama dalam pertahanan terhadap kegiatan-kegiatan subversif Komunis"

 

Isi perjanjian

Dalam kasus serangan Uni Soviet terhadap Jerman atau Jepang, kedua negara sepakat untuk berkonsultasi mengenai langkah-langkah yang perlu diambil "untuk melindungi kepentingan bersama mereka". Mereka juga sepakat bahwa kedua negara tidak akan membuat perjanjian politik dengan Uni Soviet, serta Jerman juga sepakat untuk mengakui Manchukuo.

Revisi pakta tahun 1941
Anti-Komintern Pakta dihidupkan kembali pada tahun 1941, setelah serangan Jerman atas Uni Soviet yang dimulai dengan Operasi Barbarossa. Pada tanggal 25 November, pembaruan yang berlaku selama lima tahun tersebut dirayakan. Kali ini para penandatangannya adalah:
§  Flag of the NSDAP (1920–1945).svg Jerman[2]
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/9c/Flag_of_Denmark.svg/22px-Flag_of_Denmark.svg.png Denmark (dalam pendudukan Jerman)[2]
§  Bendera Slowakia Slowakia (negara boneka Jerman)[2]
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/79/Merchant_flag_of_Japan_%281870%29.svg/22px-Merchant_flag_of_Japan_%281870%29.svg.png Jepang[2]
§   Cina (Pemerintahan Wang Jingwei, dalam pendudukan Jepang)[2]
§  Flag of Manchukuo.svg Manchukuo (dalam pendudukan Jepang)[2]
§  Bendera Italia Italia[2]
§  Bendera Kroasia Kroasia (protektorat Italia)[2]
§  Bendera Bulgaria Bulgaria[2]
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/bc/Flag_of_Finland.svg/22px-Flag_of_Finland.svg.png Finlandia[2]
§  Bendera Hongaria Hongaria[2]
§  Bendera Rumania Rumania[2]
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/d0/Flag_of_Spain_under_Franco_1938_1945.svg/22px-Flag_of_Spain_under_Franco_1938_1945.svg.png Spanyol[2]

8.Perjanjian Schengen 1985

Perjanjian Schengen 1985 merupakan perjanjian yang dibuat oleh sejumlah negara Eropa untuk menghapuskan pengawasan perbatasan di antara mereka. Di dalam perjanjian ini tercakup berbagai aturan kebijakan bersama untuk izin masuk jangka pendek (termasuk di dalamnya Visa Schengen), penyelarasan kontrol perbatasan eksternal, dan kerjasama polisi lintas batas. Namanya diambil dari tempat penandatanganan perjanjian ini, suatu desa di Luksemburg.

Negara-negara yang terlibat

Hingga 2006 sebanyak 30 negara - mencakup sebagian besar anggota Uni Eropa plus Islandia, Norwegia, dan Swiss (termasukLiechtenstein) - telah menandatangani perjanjian ini; sejauh ini 25 negara telah menerapkannya. Republik Irlandia (IR) dan Britania Raya (GB) hanya turut serta dalam kerjasama polisi lintas batas namun tidak untuk pengawasan perbatasan bersama dan pengeluaran visa. Di dalam wilayah Schengen (wilayah negara-negara yang telah menerapkan), pos dan pengawasan perbatasan telah dihapuskan dan 'Visa Schengen' umum dikeluarkan. Pemegang paspor/visa salah satu negara yang telah menerapkan Perjanjian Schengen (namun bukan IR dan GB!) dapat memasuki wilayah setiap negara penerap lainnya secara bebas.

Penerapan

Berikut adalah negara-negara yang telah menerapkan semua isi perjanjian:
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/92/Flag_of_Belgium_%28civil%29.svg/22px-Flag_of_Belgium_%28civil%29.svg.png Belgia (26 Maret 1995)
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/c3/Flag_of_France.svg/22px-Flag_of_France.svg.png Perancis dan http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/ea/Flag_of_Monaco.svg/22px-Flag_of_Monaco.svg.png Monako (26 Maret 1995)
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/ba/Flag_of_Germany.svg/22px-Flag_of_Germany.svg.png Jerman (26 Maret 1995)
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/20/Flag_of_the_Netherlands.svg/22px-Flag_of_the_Netherlands.svg.png Belanda (26 Maret 1995)
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/5c/Flag_of_Portugal.svg/22px-Flag_of_Portugal.svg.png Portugal (26 Maret 1995)
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/9a/Flag_of_Spain.svg/22px-Flag_of_Spain.svg.png Spanyol (26 Maret 1995)
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/03/Flag_of_Italy.svg/22px-Flag_of_Italy.svg.png Italia, termasuk Republik San Marino dan Vatikan (26 Oktober 1997)
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/41/Flag_of_Austria.svg/22px-Flag_of_Austria.svg.png Austria (1 Desember 1997)
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/5c/Flag_of_Greece.svg/22px-Flag_of_Greece.svg.png Yunani (26 Maret 2000)
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/9c/Flag_of_Denmark.svg/22px-Flag_of_Denmark.svg.png Denmark (25 Maret 2001)
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/bc/Flag_of_Finland.svg/22px-Flag_of_Finland.svg.png Finlandia (25 Maret 2001)
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/ce/Flag_of_Iceland.svg/22px-Flag_of_Iceland.svg.png Islandia (25 Maret 2001)
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/d9/Flag_of_Norway.svg/22px-Flag_of_Norway.svg.png Norwegia (25 Maret 2001)
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/4c/Flag_of_Sweden.svg/22px-Flag_of_Sweden.svg.png Swedia (25 Maret 2001)
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/84/Flag_of_Latvia.svg/22px-Flag_of_Latvia.svg.png Latvia (21 Desember 2007)
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/73/Flag_of_Malta.svg/22px-Flag_of_Malta.svg.png Malta (21 Desember 2007)
§  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f3/Flag_of_Switzerland.svg/20px-Flag_of_Switzerland.svg.png Swiss, termasuk Liechtenstein (12 Desember 2008) [1]
Pemegang paspor atau visa salah satu negara di atas dapat masuk dan keluar secara bebas di antara negara-negara tersebut.

9.Perjanjian Roem-Roijen

Perjanjian Roem-Roijen (juga disebut Perjanjian Roem-Van Roijen) adalah sebuah perjanjian antara Indonesia dengan Belanda yang dimulai pada tanggal 14 April 1949 dan akhirnya ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta. Namanya diambil dari kedua pemimpin delegasi, Mohammad Roem dan Herman van Roijen. Maksud pertemuan ini adalah untuk menyelesaikan beberapa masalah mengenai kemerdekaan Indonesia sebelum Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada tahun yang sama.
Kesepakatan
Hasil pertemuan ini adalah:
§  Angkatan bersenjata Indonesia akan menghentikan semua aktivitas gerilya
§  Pemerintah Republik Indonesia akan menghadiri Konferensi Meja Bundar
§  Pemerintah Republik Indonesia dikembalikan ke Yogyakarta
§  Angkatan bersenjata Belanda akan menghentikan semua operasi militer dan membebaskan semua tawanan perang
Pada tanggal 22 Juni, sebuah pertemuan lain diadakan dan menghasilkan keputusan:
§  Kedaulatan akan diserahkan kepada Indonesia secara utuh dan tanpa syarat sesuai perjanjian Renville pada 1948
§  Belanda dan Indonesia akan mendirikan sebuah persekutuan dengan dasar sukarela dan persamaan hak
§  Hindia Belanda akan menyerahkan semua hak, kekuasaan, dan kewajiban kepada Indonesia

10.         Konvensi Bern tentang Perlindungan Karya Seni dan Sastra
Konvensi Bern tentang Perlindungan Karya Seni dan Sastra, biasa disebut Konvensi Bern atau Konvensi Berne, merupakan persetujuan internasional mengenai hak cipta, pertama kali disetujui di Bern, Swiss pada tahun 1886.
Sebelum penerapan Konvensi Bern, undang-undang hak cipta biasanya berlaku hanya bagi karya yang diciptakan di dalam negara bersangkutan. Akibatnya, misalnya ciptaan yang diterbitkan di London oleh seorang warga negara Inggris dilindungi hak ciptanya di Britania Raya, namun dapat disalin dan dijual oleh siapapun di Swiss; demikian pula sebaliknya.
Konvensi Bern mengikuti langkah Konvensi Paris pada tahun 1883, yang dengan cara serupa telah menetapkan kerangka perlindungan internasional atas jenis kekayaan intelektual lainnya, yaitu paten, merek, dan desain industri.
Sebagaimana Konvensi Paris, Konvensi Bern membentuk suatu badan untuk mengurusi tugas administratif. Pada tahun 1893, kedua badan tersebut bergabung menjadi Biro Internasional Bersatu untuk Perlindungan Kekayaan Intelektual (dikenal dengan singkatan bahasa Prancisnya, BIRPI), di Bern. Pada tahun 1960, BIRPI dipindah dari Bern ke Jenewa agar lebih dekat ke PBB dan organisasi-organisasi internasional lain di kota tersebut, dan pada tahun 1967 BIRPI menjadi WIPO, Organisasi Kekayaan Intelektual Internasional, yang sejak 1974 merupakan organisasi di bawah PBB.
Konvensi Bern direvisi di Paris pada tahun 1896 dan di Berlin pada tahun 1908, diselesaikan di Bern pada tahun 1914, direvisi di Roma pada tahun 1928, di Brussels pada tahun 1948, di Stockholm pada tahun 1967 dan di Paris pada tahun 1971, dan diubah pada tahun 1979.
Pada Januari 2006, terdapat 160 negara anggota Konvensi Bern. Sebuah daftar lengkap yang berisi para peserta konvensi ini tersedia,disusun menurut nama negara atau disusun menurut tanggal pemberlakuannya di negara masing-masing.

Isi perjanjian

Konvensi Bern mewajibkan negara-negara yang menandatanganinya melindungi hak cipta dari karya-karya para pencipta dari negara-negara lain yang ikut menandatanganinya (yaitu negara-negara yang dikenal sebagai Uni Bern), seolah-olah mereka adalah warga negaranya sendiri. Artinya, misalnya, undang-undang hak cipta Prancis berlaku untuk segala sesuatu yang diterbitkan atau dipertunjukkan di Prancis, tak peduli di mana benda atau barang itu pertama kali diciptakan.
Konvensi Bern bukanlah sekadar persetujuan tentang bagaimana hak cipta harus diatur di antara negara-negara anggotanya melainkan, yang lebih penting lagi, Konvensi ini menetapkan serangkaian tolok ukur minimum yang harus dipenuhi oleh undang-undang hak cipta dari masing-masing negara.
Hak cipta di bawah Konvensi Bern bersifat otomatis, tidak membutuhkan pendaftaran secara eksplisit.
Konvensi Bern menyatakan bahwa semua karya, kecuali berupa fotografi dan sinematografi, akan dilindungi sekurang-kurangnya selama 50 tahun setelah si pembuatnya meninggal dunia, namun masing-masing negara anggotanya bebas untuk memberikan perlindungan untuk jangka waktu yang lebih lama, seperti yang dilakukan oleh Uni Eropa dengan Petunjuk untuk mengharmonisasikan syarat-syarat perlindungan hak cipta tahun 1993. Untuk fotografi, Konvensi Bern menetapkan batas mininum perlindungan selama 25 tahun sejak tahun foto itu dibuat, dan untuk sinematografi batas minimumnya adalah 50 tahun setelah pertunjukan pertamanya, atau 50 tahun setelah pembuatannya apabila film itu tidak pernah dipertunjukan dalam waktu 50 tahun sejak pembuatannya.
Negara-negara yang terkena revisi perjanjian yang lebih tua dapat memilih untuk memilih untuk memberikan, dan untuk jenis-jenis karya tertentu (seperti misalnya piringan rekama suara dan gambar hidup) dapat diberikan batas waktu yang lebih singkat.
Meskipun Konvensi Bern menyatakan bahwa undang-undang hak cipta dari negara yang melindungi suatu karya tertentu akan diberlakukan, ayat 7.8 menyatakan bahwa "kecuali undang-undang dari negara itu menyatakan hal yang berbeda, maka masa perlindungan itu tidak akan melampaui masa yang ditetapkan di negara asal dari karya itu", artinya si pengarang biasanya tidak berhak mendapatkan perlindungan yang lebih lama di luar negeri daripada di negeri asalnya, meskipun misalnya undang-undang di luar negeri memberikan perlindungan yang lebih lama.

11.         Konferensi Meja Bundar
Konferensi Meja Bundar adalah sebuah pertemuan antara pemerintah Republik Indonesia danBelanda yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda dari 23 Agustus hingga 2 November 1949.[1]

Latar belakang

Usaha untuk meredam kemerdekaan Indonesia dengan jalan kekerasan berakhir dengan kegagalan.Belanda mendapat kecaman keras dari dunia internasional. Belanda dan Indonesia kemudian mengadakan beberapa pertemuan untuk menyelesaikan masalah ini secara diplomasi, lewat perundingan Linggarjati, perjanjian Renville, perjanjian Roem-van Roijen, dan Konferensi Meja Bundar.
Hasil konferensi
§  Serahterima kedaulatan dari pemerintah kolonial Belanda kepada Republik Indonesia Serikat, kecuali Papua bagian barat. Indonesia ingin agar semua bekas daerah Hindia Belanda menjadi daerah Indonesia, sedangkan Belanda ingin menjadikan Papua bagian barat negara terpisah karena perbedaan etnis. Konferensi ditutup tanpa keputusan mengenai hal ini. Karena itu pasal 2 menyebutkan bahwa Papua bagian barat bukan bagian dari serahterima, dan bahwa masalah ini akan diselesaikan dalam waktu satu tahun.[2][3][4][5]
§  Dibentuknya sebuah persekutuan Belanda-Indonesia, dengan monarch Belanda sebagai kepala negara
§  Pengambil alihan hutang Hindia Belanda oleh Republik Indonesia Serikat
1.     Keradjaan Nederland menjerahkan kedaulatan atas Indonesia jang sepenuhnja kepada Republik Indonesia Serikat dengan tidak bersjarat lagi dan tidak dapat ditjabut, dan karena itu mengakui Republik Indonesia Serikat sebagai Negara yang merdeka dan berdaulat.
2.     Republik Indonesia Serikat menerima kedaulatan itu atas dasar ketentuan-ketentuan pada Konstitusinja; rantjangan konstitusi telah dipermaklumkan kepada Keradjaan Nederland.
3.     Kedaulatan akan diserahkan selambat-lambatnja pada tanggal 30 Desember 1949
Rantjangan Piagam Penjerahan Kedau

2 komentar: